Instalasi Sistem Operasi Ubuntu
LAB 06 | Instalasi Sistem Operasi Ubuntu
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang dilakukan pada lab kali ini meliputi sebagai berikut:
Memahami konsep dasar sistem operasi Ubuntu
Melakukan instalasi sistem operasi Ubuntu secara mandiri dan benar
Menjelaskan langkah-langkah persiapan instalasi
Materi Pembelajaran
Ubuntu adalah sistem operasi berbasis open source gratis yang multi fungsi dan relatif mudah digunakan. Ubuntu adalah hasil perkembangan dari OS Linux Debian, sehingga hampir semua library Linux dapat dijalankan dalam Ubuntu. Ubuntu memiliki tiga edisi resmi, yakni Ubuntu Desktop untuk komputer pribadi, Ubuntu Server (LTS) untuk operasional server dan komputasi awan, serta Ubuntu Core untuk kebutuhan IoT, system embedded, dan robotika. Selain itu, Ubuntu memiliki jadwal rilis update setiap 6 bulan, sehingga sistem Ubuntu dapat terus diperbarui.
Persiapan pembelajaran
Dalam mempelajari pembahasan materi instalasi sistem operasi ubuntu membutuhkan beberapa persiapan untuk memahami materi instalasi sistem operasi ubuntu persiapan yang dilakukan untuk memahami pembelajaran tersebut yaitu adalah Desain topologi. Desain topologi yang digunakan pada materi kali ini yang akan digunakan adalah sebagai berikut ini:
Gambar 1.1 Topologi jaringan Materi
Konfigurasi
Pertama-tama kita masuk ke aplikasi Oracle Virtual Box. kemudian kita membuat mesin virtual baru.
Setelah membuat mesin virtual baru, langkah selanjutnya adalah mengatur base memory (memori dasar) sesuai kebutuhan sistem operasi yang akan diinstal.
Selanjutnya kita dapat mengisi Name sesuai keinginan, misalnya "ucupp", lalu pada bagian Type pilih "Linux", Subtype pilih "Ubuntu", dan untuk Version pilih "Ubuntu (64-bit)". Pemilihan ini bertujuan agar VirtualBox dapat menyesuaikan pengaturan sistem secara otomatis dengan karakteristik Ubuntu. Setelah semuanya diisi dengan benar, kita bisa klik tombol Finish untuk menyelesaikan proses pembuatan mesin virtual awal dan melanjutkan ke tahap konfigurasi selanjutnya.
Setelah membuat mesin virtual, langkah berikutnya adalah membuat virtual hard disk sebagai media penyimpanan. Pilih opsi Create a Virtual Hard Disk Now, tentukan lokasi penyimpanan, lalu atur kapasitas menjadi 30 GB. Gunakan format VDI (VirtualBox Disk Image) agar kompatibel dengan VirtualBox. Setelah itu, klik Finish untuk melanjutkan.
Sebelum menjalankan mesin virtual, kita perlu menambahkan file installer Ubuntu (.iso). Caranya adalah klik pada bagian [Optical Drive] Empty, lalu pilih file ISO Ubuntu yang sudah diunduh sebelumnya.
Masuk ke menu Settings > Network > Adapter 1, lalu ubah tipe koneksi menjadi Bridged Adapter. Pengaturan ini memungkinkan mesin virtual terhubung langsung ke jaringan utama, seperti layaknya komputer fisik.
Selanjutnya pada Adapter 2, ubah mode koneksi ke Host-only Adapter. Konfigurasi ini memungkinkan komunikasi langsung antara host dan VM melalui jaringan virtual internal, tanpa koneksi ke jaringan eksternal. Mode ini ideal untuk simulasi jaringan lokal seperti pengujian server atau konfigurasi IP statis.
Jika semua pengaturan sudah selesai, klik tombol Start (ikon panah hijau) untuk memulai instalasi Ubuntu. Nantinya akan muncul tampilan installer Ubuntu untuk melanjutkan proses instalasi di dalam mesin virtual.
Saat mesin virtual pertama kali dijalankan, VirtualBox akan secara otomatis membaca file ISO Ubuntu yang telah kita lampirkan sebelumnya. Jika proses ini berjalan dengan benar, maka akan muncul tampilan awal instalasi seperti pada gambar. Pada tahap ini, kita akan diminta untuk memilih bahasa yang akan digunakan selama proses instalasi. Gunakan tombol panah pada keyboard untuk menavigasi menu, kemudian pilih opsi English dan tekan Enter untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Setelah memilih bahasa, muncul opsi untuk memperbarui installer. Di sini kita pilih Continue without updating agar instalasi bisa langsung dilanjutkan tanpa menunggu update.
Selanjutnya, pilih layout keyboard yang sesuai. Jika sudah benar, klik "Done" untuk melanjutkan.
Jika sudah masuk ke tampilan Network connections langkah selanjutnya kita pilih interface jaringan yang akan digunakan, misalnya enp0s3. Kemudian, tekan Enter dan pilih opsi "Edit IPv4" untuk mengatur konfigurasi alamat IP secara manual atau memastikan pengaturannya sudah sesuai. Langkah ini penting agar server bisa terhubung ke jaringan dengan benar.
Setelah memilih opsi Edit IPv4 secara manual, langkah selanjutnya adalah mengisi konfigurasi jaringan pada kolom yang tersedia, yaitu Subnet, Address, dan Gateway. Setelah semua data diisi dengan benar, klik "Save" untuk menyimpan pengaturannya.
Setelah mengisi konfigurasi jaringan pada enp0s3, selanjutnya kita lakukan hal yang sama untuk interface enp0s8. Langkah-langkahnya tetap sama, namun kali ini alamat IP diisi berdasarkan nomor absen masing-masing. Misalnya, jika nomor absen saya adalah 9, maka Address dan Gateway diisi dengan 18.18.18.1, dan Subnet dengan 18.18.18.0/24. Setelah selesai, klik "Save" untuk menyimpan pengaturannya.
Setelah semua interface enp0s selesai dikonfigurasi dengan IP masing-masing, langkah selanjutnya adalah klik "Done" untuk melanjutkan ke tahap berikutnya dalam proses instalasi.
Saat masuk ke tampilan Configure Proxy, kita bisa langsung klik "Done", karena pada instalasi ini kita tidak menggunakan proxy untuk koneksi internet.
Selanjutnya saat berada di tampilan Configure ubuntu archive mirror kita bisa lanjutkan dengan mengeklik done.
Setelah masuk ke tampilan Guided Storage Configuration, pilih opsi Custom storage layout dengan menekan Enter. Setelah itu, klik Done untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.
Selanjutnya, pada tampilan Storage Configuration, kita arahkan ke bagian Free Space, lalu pilih opsi Add GPT Partition. Langkah ini dilakukan untuk membuat tabel partisi baru sebelum kita menentukan jenis dan ukuran partisi yang dibutuhkan.
Setelah memilih opsi Add GPT Partition, langkah berikutnya adalah menentukan ukuran partisi. Karena ukuran maksimal yang tersedia adalah 29.998G, maka di sini kita isi dengan 15G. Pastikan format tetap ext4 dan mount point berada di /. Jika sudah sesuai, klik Create untuk membuat partisi root.
Selanjutnya, kita ulangi langkah yang sama untuk membuat partisi berikutnya. Karena sisa kapasitas maksimum adalah 14.997G, kita isi dengan 2G. Setelah itu, ubah bagian Format menjadi swap, lalu klik Create untuk membuat partisi swap yang berfungsi sebagai memori virtual tambahan.
Setelah dua partisi sebelumnya berhasil dibuat, langkah berikutnya adalah membuat partisi terakhir. Gunakan sisa kapasitas maksimal yang tersedia, yaitu 12.997G, lalu atur mount point menjadi /home. Pastikan format tetap ext4, kemudian klik Create untuk menyelesaikan proses pembuatan partisi.
Setelah semua partisi berhasil dibuat, langkah selanjutnya adalah klik Done untuk menyimpan pengaturan partisi. Ketika muncul tampilan Confirm Destructive Action, pilih opsi Continue untuk mengonfirmasi dan melanjutkan proses instalasi.
Langkah selanjutnya, kita masuk ke tahap pembuatan username dan password. Silakan isi sesuai dengan yang diinginkan untuk identitas pengguna sistem. Setelah semua kolom terisi dengan benar, klik Done untuk melanjutkan ke proses instalasi berikutnya.
Setelah membuat username dan password, akan muncul tampilan SSH Setup. Aktifkan opsi "Install OpenSSH server" untuk memungkinkan akses server jarak jauh melalui SSH, lalu pilih [ Done ] untuk melanjutkan instalasi.
Setelah masuk ke tampilan Featured Server Snaps, kita akan melihat daftar paket aplikasi populer yang sering digunakan dalam lingkungan server, seperti Docker, Nextcloud, PostgreSQL, dan lainnya. Namun, karena saat ini kita hanya fokus pada proses instalasi sistem operasi Ubuntu, maka kita tidak perlu memilih paket apa pun. Langsung saja tekan tombol [ Done ] untuk melanjutkan ke tahap instalasi berikutnya.
Sesudah instalasi selesai, tekan [ Reboot Now ] untuk memulai ulang sistem dan menjalankan Ubuntu yang telah terpasang. Reboot ini menandai bahwa Ubuntu siap digunakan.
e. Hasil konfigurasi
Setelah melakukan konfigurasi terhadap perangkat, langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba hasil konfigurasi untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. Uji coba ini dilakukan dengan cara login ke sistem menggunakan username dan password yang telah dibuat sebelumnya. Jika berhasil masuk ke tampilan terminal seperti pada gambar, berarti instalasi dan konfigurasi Ubuntu telah berjalan dengan benar. Untuk menguji hak akses administrator, kita juga dapat mengetikkan perintah sudo -i, kemudian masukkan password saat diminta. Jika berhasil masuk sebagai root, maka konfigurasi akses administratif juga telah berfungsi dengan baik. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa sistem siap digunakan dan dapat dikendalikan dengan hak akses penuh.
Komentar
Posting Komentar